“pagi…”
Suara lirih
bernada rendah keluar dari sela-sela bibir Naira. Terlemas, bangun perlahan
dari tempat tidurnya yang empuk. Dari balik baby doll pink dengan motif
bunga-bunga kecil, sebuah hati yang baru saja pecah berkeping-keping menjadi
beberapa bagian yang sudah tak mungkin bisa disatukan lagi.
Dua kaki
pendeknya turun dari kasur, tanpa melihat, kakinya menyusuri serakan tisu-tisu
bekas yang dibuang-buang untuk menghentikan genangan air matanya 5 jam yang lalu
untuk mencari slop lembut “spongbop” kesayangannya.
Setelah telapak
kaki dan slop bertemu, Naira beranjak dari tempat tidur, menuju cermin, tidak
terlalu besar namun sudah lebih cukup untuk merefleksikan bayangan rambut
hingga kancing paling bawah bajunya.
“kamu
masih cantik kog Nai.. masih…”
Naira
mencondongkan badannya mendekat ke cermin. Memegang pipinya yang chubby. Rambut
ikalnya berantakan. Wajahnya kusut tak bercahaya namun dia masih cantik,
lingkar hitam kantung matanya seolah bercerita tentang kejadian memilukan, yang
baru saja dia alami. Semalam…
“aku mau
kita selesai saat ini juga”
Petir jutaan
volt menyambar hati gadis 21 tahun ini. Di sebuah kedai susu kecil yang sepi
pengunjung, dari semua kursi yang kosong hanya ada 2 meja terisi. 1 meja yang
digunakan rombongan yang terdiri dari 4 orang muda-mudi dan satu lagi diisi
Naira, posisinya berada di pojok, diterawang oleh satu lampu kuning yang redup,
dan dia malam ini tidak sendiri, dia bersama Lana.
Pria yang
menghantarkan petir itu dengan teganya.
“segini
doang perjuangan kamu? Kamu lebih milih dia cewek ningrat pilihan ibu kamu
ketimbang 5 tahun hubungan kita?” kata Naira dengan bibir bergetar dan menahan
genangan diujung matanya.
“bukan Cuma
itu… kita emang udah nggak cocok, kita sering bertengkar, kita seperti dua
orang yang berbeda yang tiap bertemu selalu bersinggungan. Kamu gag pernah
ngerti Nai, kamu egois”.
“Aku egois??? Mas, kamu yang terlalu pengecut. Kalo kamu emang laki-laki seharusnya bisa mempertahankan hubungan kita…”
“Iya..!!
dengerin aku dulu, aku ingin kita putus baik-baik Nai…”
“putus
baik-baik? Kalo kita sama-sama baik-baik, seharusnya hubungan kita juga tetep
baik-baik mas…”
Setengah bangkit
dari tempat duduknya. Dua tangan Lana bertumpu dari meja.
“Nai… aku
cinta kamu, tapi keadaan yang memak…”
Setengah gelas
orange juice memercah membasahi sebagian wajah Lana, kemeja hitamnya basah,
dengan pulpy-pulpy yang meluncur pelan membasahi kerahnya. Dingin dan begitu
lengket.
Rasa puas
setengah sakit terpancar sekilas di wajah Naira, gelas dia kembalikan lagi ke
meja, terhentak agak keras. Mengagetkan semua orang yang berada didalam kedai
susu tersebut. 4 muda-mudi yang tadi duduk berseberangan dengan meja mereka. Berikut
juga beberapa pelayan yang asyik duduk didekat meja kasir.
“kenapa
nyiram aku Nai !”
“kenapa Tanya
aku! Tanya ke rasa takutmu sendiri mas !!”
Naira
berbalik, air matanya turun deras tak terbendung. Meninggalkan Lana beserta
rasa malunya, berjalan cepat keluar, menemukan taksi, lalu berjalan pulang. Naira
menangis sejadi-jadinya.
Sebuah malam
yang berat. Baru saja dia alami.
Puas memandangi
wajahnya yang sembab. Naira berbalik dari cermin mengedarkan pandangan keseluruh
penjuru kamar. Berantakan katanya
dalam hati, ingatannya kembali ke malam kemarin, cewek virgo ini seperti
kehilangan kendali diri, tangisnya meledak-ledak, membenamkan wajahnya ke
guling, berharap dia bisa menangis sejadi-jadinya, guling yang menyumpal
setengah mulut itu bisa meredam suara pilunya.
Jam digital
berkedip-kedip didepan matanya sekarang, 08:57 AM waktu menunjukkan.
Naira berjalan
pelan menuju jendela yang masih tertutup tirai warna pink pastel. Langkahnya
hati-hati, takut terinjak serakan barang-barang yang semalam dia lempar kesegala
arah, berlembar-lembar tisu beserta kotaknya, robekan fotonya bersama Lana.
Tirai dibukanya
pelan, seketika itu pula cahaya matahari pagi menyeruak masuk sedikit
menyilaukan mata, hangat, jika dilihat dari pintu masuk kamar, seolah Nai
membentuk siluet hitam dilatari tirai pink pastel menyala.
Cahaya matahari
mencumbu tak sopan, hangatnya menerbangkan Naira kembali pada kenangan cintanya
dulu. Saat Lana pertama kali menyatakan cintanya di hutan kampus saat mereka
berdua, ucapan selamat pagi yang selalu datang mengawali harinya, kenangan
ketika mereka berteduh bersama saat hujan turun menghentikan lari mereka menuju
kelas. Dadanya sesak. Hembusannya menjadi berat, tak kuasa air matanya mengalir
perlahan.
Mungkin inilah jalan yang seharusnya. Kita memang
harus mengawali cinta dengan tawa dan mengakhirinya dengan air mata. Cinta emang
selalu pergi ngajak air mata.
Entah siapa yang
harus dikambing hitamkan. Lana yang ingin membahagiakan orang tuanya dengan
bertunangan dengan wanita pilihan ibunya atau rasa cinta yang menjadi balon,
semakin besar dan menerbangkan ke angkasa dan ketika balon itu pecah siapapun
bisa terhempas ke tanah.
Ringtun henpon
bergetar dan bersuara sayup diantara guling dan bantal, Nai tau siapa yang lancing
menelponnya pagi-pagi tanpa harus memastikannya lebih dahulu. Itu pasti Lana.. siapa lagi? Naira memilih
untuk tidak mengacuhkannya. Rasa takut untuk kembali luluh meyakinkannya
perlahan.
Ya sudah… aku tau semua ini harus berakhir
seperti ini, dan tetaplah seperti ini.
Satu hari setelah
putus memang selalu berat. Seperti berbalik tiba-tiba saat sedang melaju dalam
kecepatan sangat tinggi. Ada yang berhasil, namun lebih banyak yang terjungkal.
Membiasakan diri
menjadi seseorang yang tunggal sendiri setelah sekian lama bersama-sama itu
tidak mudah. Hal inilah yang terbaca dari tetesan-tetesan air sedihnya. Mencintai
dalam waktu yang sangat lama, lalu memaksa hati untuk membenci. Itu sangat
tidak mudah…
“hati yang aku pinjemin ke kamu kenapa kamu
patahin sih mas…” lirih kecil Nai sambil menyeka air matanya perlahan dari
balik jendela kamar.
Satu hari setelah
putus, adalah hari paling tidak menyenangkan sedunia.
0 komentar:
Posting Komentar