Selasa, 06 Agustus 2013

Satu Hari Setelah Putus

Diposting oleh Nurul Inayah di Selasa, Agustus 06, 2013
“pagi…”

Suara lirih bernada rendah keluar dari sela-sela bibir Naira. Terlemas, bangun perlahan dari tempat tidurnya yang empuk. Dari balik baby doll pink dengan motif bunga-bunga kecil, sebuah hati yang baru saja pecah berkeping-keping menjadi beberapa bagian yang sudah tak mungkin bisa disatukan lagi.

Dua kaki pendeknya turun dari kasur, tanpa melihat, kakinya menyusuri serakan tisu-tisu bekas yang dibuang-buang untuk menghentikan genangan air matanya 5 jam yang lalu untuk mencari slop lembut “spongbop” kesayangannya.

Setelah telapak kaki dan slop bertemu, Naira beranjak dari tempat tidur, menuju cermin, tidak terlalu besar namun sudah lebih cukup untuk merefleksikan bayangan rambut hingga kancing paling bawah bajunya.

“kamu masih cantik kog Nai.. masih…”

Naira mencondongkan badannya mendekat ke cermin. Memegang pipinya yang chubby. Rambut ikalnya berantakan. Wajahnya kusut tak bercahaya namun dia masih cantik, lingkar hitam kantung matanya seolah bercerita tentang kejadian memilukan, yang baru saja dia alami. Semalam…

“aku mau kita selesai saat ini juga”

Petir jutaan volt menyambar hati gadis 21 tahun ini. Di sebuah kedai susu kecil yang sepi pengunjung, dari semua kursi yang kosong hanya ada 2 meja terisi. 1 meja yang digunakan rombongan yang terdiri dari 4 orang muda-mudi dan satu lagi diisi Naira, posisinya berada di pojok, diterawang oleh satu lampu kuning yang redup, dan dia malam ini tidak sendiri, dia bersama Lana.

Pria yang menghantarkan petir itu dengan teganya.

“segini doang perjuangan kamu? Kamu lebih milih dia cewek ningrat pilihan ibu kamu ketimbang 5 tahun hubungan kita?” kata Naira dengan bibir bergetar dan menahan genangan diujung matanya.

“bukan Cuma itu… kita emang udah nggak cocok, kita sering bertengkar, kita seperti dua orang yang berbeda yang tiap bertemu selalu bersinggungan. Kamu gag pernah ngerti Nai, kamu egois”.

“Aku egois??? Mas, kamu yang terlalu pengecut. Kalo kamu emang laki-laki seharusnya bisa mempertahankan hubungan kita…”

“Iya..!! dengerin aku dulu, aku ingin kita putus baik-baik Nai…”

“putus baik-baik? Kalo kita sama-sama baik-baik, seharusnya hubungan kita juga tetep baik-baik mas…”

Setengah bangkit dari tempat duduknya. Dua tangan Lana bertumpu dari meja.

“Nai… aku cinta kamu, tapi keadaan yang memak…”

Setengah gelas orange juice memercah membasahi sebagian wajah Lana, kemeja hitamnya basah, dengan pulpy-pulpy yang meluncur pelan membasahi kerahnya. Dingin dan begitu lengket.

Rasa puas setengah sakit terpancar sekilas di wajah Naira, gelas dia kembalikan lagi ke meja, terhentak agak keras. Mengagetkan semua orang yang berada didalam kedai susu tersebut. 4 muda-mudi yang tadi duduk berseberangan dengan meja mereka. Berikut juga beberapa pelayan yang asyik duduk didekat meja kasir.

“kenapa nyiram aku Nai !”

“kenapa Tanya aku! Tanya ke rasa takutmu sendiri mas !!”

Naira berbalik, air matanya turun deras tak terbendung. Meninggalkan Lana beserta rasa malunya, berjalan cepat keluar, menemukan taksi, lalu berjalan pulang. Naira menangis sejadi-jadinya.

Sebuah malam yang berat. Baru saja dia alami.

Puas memandangi wajahnya yang sembab. Naira berbalik dari cermin mengedarkan pandangan keseluruh penjuru kamar. Berantakan katanya dalam hati, ingatannya kembali ke malam kemarin, cewek virgo ini seperti kehilangan kendali diri, tangisnya meledak-ledak, membenamkan wajahnya ke guling, berharap dia bisa menangis sejadi-jadinya, guling yang menyumpal setengah mulut itu bisa meredam suara pilunya.

Jam digital berkedip-kedip didepan matanya sekarang, 08:57 AM waktu menunjukkan.

Naira berjalan pelan menuju jendela yang masih tertutup tirai warna pink pastel. Langkahnya hati-hati, takut terinjak serakan barang-barang yang semalam dia lempar kesegala arah, berlembar-lembar tisu beserta kotaknya, robekan fotonya bersama Lana.

Tirai dibukanya pelan, seketika itu pula cahaya matahari pagi menyeruak masuk sedikit menyilaukan mata, hangat, jika dilihat dari pintu masuk kamar, seolah Nai membentuk siluet hitam dilatari tirai pink pastel menyala.

Cahaya matahari mencumbu tak sopan, hangatnya menerbangkan Naira kembali pada kenangan cintanya dulu. Saat Lana pertama kali menyatakan cintanya di hutan kampus saat mereka berdua, ucapan selamat pagi yang selalu datang mengawali harinya, kenangan ketika mereka berteduh bersama saat hujan turun menghentikan lari mereka menuju kelas. Dadanya sesak. Hembusannya menjadi berat, tak kuasa air matanya mengalir perlahan.

Mungkin inilah jalan yang seharusnya. Kita memang harus mengawali cinta dengan tawa dan mengakhirinya dengan air mata. Cinta emang selalu pergi ngajak air mata.

Entah siapa yang harus dikambing hitamkan. Lana yang ingin membahagiakan orang tuanya dengan bertunangan dengan wanita pilihan ibunya atau rasa cinta yang menjadi balon, semakin besar dan menerbangkan ke angkasa dan ketika balon itu pecah siapapun bisa terhempas ke tanah.

Ringtun henpon bergetar dan bersuara sayup diantara guling dan bantal, Nai tau siapa yang lancing menelponnya pagi-pagi tanpa harus memastikannya lebih dahulu. Itu pasti Lana.. siapa lagi? Naira memilih untuk tidak mengacuhkannya. Rasa takut untuk kembali luluh meyakinkannya perlahan.

Ya sudah… aku tau semua ini harus berakhir seperti ini, dan tetaplah seperti ini.

Satu hari setelah putus memang selalu berat. Seperti berbalik tiba-tiba saat sedang melaju dalam kecepatan sangat tinggi. Ada yang berhasil, namun lebih banyak yang terjungkal.

Membiasakan diri menjadi seseorang yang tunggal sendiri setelah sekian lama bersama-sama itu tidak mudah. Hal inilah yang terbaca dari tetesan-tetesan air sedihnya. Mencintai dalam waktu yang sangat lama, lalu memaksa hati untuk membenci. Itu sangat tidak mudah…

hati yang aku pinjemin ke kamu kenapa kamu patahin sih mas…” lirih kecil Nai sambil menyeka air matanya perlahan dari balik jendela kamar.


Satu hari setelah putus, adalah hari paling tidak menyenangkan sedunia.


0 komentar:

Posting Komentar